LMI MINSEL New's - Kilas cerita sejarah Watu Pinawetengan menceritakan saat pemukiman awal orang Minahasa (Tu’ur Intana) sampai keturunan keturunan Toar dan Lumimuut (suku asli Minahasa).
Om Ari Rantumbanua, juru bicara dan pemelihara Cagar budaya Watu Pinawetengan saat ditemui rombongan LMI MINSEL yang di ketuai Tonaas Tommy Pantow dan Tonaas Wulan Ritha Lolowang.
Intinya rombongan kami datang disini karena kami Peduli dan menghargai Peninggalan bersejarah dari nenek moyang kami. Ungkap Tonaas Wulan LMI MINSEL Ritha Lolowang yang juga selaku Anggota Dewan dapil dua dari partai PDIP.
Om Ari menjelaskan, secara etimologi Watu Pinawetengan berasal dari kata dari bahasa Minahasa, Watu artinya batu, sedangkan Pinawetengan bermakna tempat pembagian. Watu Pinawetengan dahulu menjadi tempat pertemuan leluhur Minahasa (apo) untuk menentukan sesuatu. Musyawarah terpenting yang pertama kali dilakukan adalah pembicaraan mengenai pembagian wilayah yang akhirnya menghasilkan sub-etnis minahasa.
ToPan Sedikit menambah dalam pembicaraan. "Pembagian sub suku Minahasa menjadi 9 Suku. yang setiap suku mempunyai bahasa dan wilayahnya masing-masing. Antara lain Tontempoan, Tombulu, Tonsea, Tolour, Tonsawang, Pasang, Penosakan, Bantik, dan Siau,"
Uniknya, hasil pembagian wilayah dan etnis suku Minahasa yang dilakukan di Watu Pinawetengan tersebut digoreskan pada batu. Ungkap nada heran Tonaas Infokom Andi Runtunuwu.
Dalam pertemuan tersebut, Panglima LMI MINSEL Roy Pomantow menyampaikan beberapa amanat, Nuwu i tua antara lain Masawang sawangan yang artinya cipta rasa saling tolong menolong, Maesa esaan yang artinya cipta rasa persatuan dan kesatuan, dan Maleo leosan (baku-baku bae) yang berarti saling berbuat baik.
ToPan menyambung penyampaian dari Panglima, ketiga amanat tersebutlah yang kemudian menginspirasi Sam Ratulangi, sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia, mencetuskan slogan 'Si Tou Timou Tomou Tou' yang memiliki makna, orang hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menghidupkan orang lain dan semboyan inilah yang saya harapkan dapat melekat pada diri kita sebagai Laskar Manguni Indonesia. Ungkap ToPan nada ramah.
Tidak jauh dari lokasi Watu Pinawetengan terdapat. Sumber air Panas. Jelas Penasehat Yan P Momongan sambil mengajak rombongan LMI MINSEL untuk mampir ke lokasi air panas.
Kembali Mengingat arti penting Watu Pinawetengan sebagai awal mula peradaban suku Minahasa di Nusantara, pada 1 Desember 1974, HV Worang, sebagai Gubernur Sulawesi Utara pada saat itu meresmikan berdirinya Situs Watu Pinawetengan. Kemudian berdasarkan UU No 11 tahun 2010, Situs Watu Pinawetengan diangkat menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Jelas Om Ari. Ketika dalam percakapan bersama LMI MINSEL terpantau semua pengunjung melepas alas kaki dan berdiri sambil berdialog di depan bangunan permanen yang diatasnya nampak patung burung manguni yang merupakan cirihas yang dipakai juga sebagai lambang Minahasa.
Selesai perbincangan antara om Ari Rantumbanua bersama rombongan LMI MINSEL,.
Lanjut dengan kegiatan bersih-bersih sampah di lokasi seputaran Cagar budaya Watu Pinawetengan dan di lokasi Air Panas.
Semua terpantau aktif dan bersemangat.
PANGLIMA - LMI MINSEL
Roy Pomantow.

